Loading...

Minggu, 31 Januari 2016

Denny Sanusi, (Tjong Bun Fie), Diusir Keluarga Demi ISLAM

Kamis 1 okt, 2015

 

Perjalanan keislamannya penuh berliku. Ia mendapat hadangan dari keluarganya. Berbagai cobaan pun menimpanya dari yang halus hingga kasar. Puncaknya, ia pernah diusir sang ayah dari rumah. Namun, berkat kesabaran dan keyakinannya pada agama Islam, ia pun selamat dari ujian tersebut. Kini, bersama istri dan anak-anaknya yang pintar ia pun menikmati hasilnya yang positif.

Denny Sanusi, BA, begitu namanya. Lelaki kelahiran Jakarta, 21 November 1962 ini memiliki nama asli Tjong Bun Lie. Ayahnya bernama Tjong Nyit Sin dan ibunya adalah Lie Kim Nyuk.

Sejak kecil, Denny hidup dengan gelimang harta dan agama Konghucu. Ia terdidik untuk mengikuti agama bapaknya yang merupakan asli orang China, yang merantau ke Jakarta dan kemudian bertemu dengan gadis Bandung untuk dinikahinya.

Sebagai pemeluk agama Konghucu, sebenarnya Denny cukup taat. Namun, keluarga cukup demokratis dalam memperlakukan agama pada anak-anaknya. Sikap demokratis inilah yang kemudian membawa Denny untuk disekolahkan di Sekolah Katolik saat SMA.

Otomatis, Denny pun banyak berkawan dengan teman-teman yang beragama Katolik. Namun, di sinilah justru ujian keagamaan datang pertama kali kepadanya. Lembaga pendidikan tempatnya menggali ilmu justru sangat ketat dalam mendoktrin agama Katolik pada anak-anak didiknya. Seluruh siswanya diharuskan masuk ke agama Katolik. “Jika tidak, hal itu sangat berpengaruh pada nilai kelas,” ujar Denny berkisah.

Dalam kondisi terpaksa Denny pun mulai belajar agama Katolik sebenar-benarnya. Ia membaca Bible dan pergi ke gereja dengan sangat rajin. Setelah setahun bergelut dengan ajaran-ajaran Katolik ia pun memutuskan untuk masuk Katolik. Saat itu ia kelas dua. “Saya pun mulai dibaptis,” ujarnya.

Berpindahnya Denny ke agama Katolik ini diketahui oleh orang tua dan keluarganya. Namun, mereka tidak marah. Mereka memperbolehkan anak-anaknya untuk memeluk agama manapun, asalkan bukan Islam. Jadi, ketika mengetahui Denny beralih agama ke Katolik, respon keluarga pun biasa-biasa saja.

Namun, ajaran agama yang baru digenggamnya itu justru tidak memuaskan dahaga spiritualnya. Sejak itu, Denny malah semakin malas pergi ke gereja. “Saya sendiri tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi?” ujar Denny penuh keheranan. Yang jelas, Denny merasa tidak nyaman saja dalam menjalani agama tersebut.

Hatinya gelisah dan tak karuan. Di tengah hatinya yang sedang gundah gulana itulah ia akhirnya bertemu dengan seseorang yang cukup mengerti tentang agama, meski bukan seorang ustadz. Ia pun mengutarakan kegundahannya ini. Bagi seorang anak remaja yang masih kelas tiga saat itu, jelas saja sikap Denny ini mengundang decak kagum orang itu. Bagaimana mungkin seorang anak remaja sudah mengungkap kegelisahan dirinya terkait masalah keyakinan? Tapi itulah kenyataannya.

Denny bertanya pada orang itu, “Pak, sejak saya memeluk Katolik kok hati selalu gelisah. Saya semakin males pergi ke gereja. Ada apa ya?”
Orang itu bertanya balik, “Kamu percaya Tuhan?”

“Ya,” jawab Denny.

“Berdoalah kepadanya, tapi jangan menyebut nama Tuhan saya (Allah) dan juga tuhan kamu (Allah dibaca Alah),” ujar orang itu.

“Doa apa yang harus saya baca,” tanya Denny penasaran.
Berdoalah sebelum tidur demikian, “Ya Tuhan tolonglah saya. Tunjukkan saya agama mana yang paling benar di dunia dan akherat. Yang dapat menyelamatkan saya di dunia dan akherat.”

Karena Denny sedang bersemangat untuk mencari kebenaran, malam itu juga sebelum tidur ia membaca doa tersebut. Enggak tahu, apa kebetulan atau tidak, besok harinya justru hari Ramadhan. Denny menyadari kalau pada saat-saat seperti ini umat Islam akan berpuasa. Besok harinya ia pun mencoba untuk berpuasa.

Hal itu terus berlangsung hingga memasuki puasa hari ke tujuh. Denny selalu berpuasa. Pada hari ketujuh, menjelang Maghrib Denny menyetel radio. Tanpa diduga-duga ia mendengar suara adzan yang sangat merdu dari balik radio. Saking terkejutnya ia pingsan sejenak selama kurang lebih semenit. “Saya sendiri heran, padahal setiap hari saya sering mendengar adzan dari tetangga terdekat,” ujar Denny yang sejak kecil memang hidup di tengah masyarakat yang banyak beragama Islam ini.

Bagi Denny, apa yang dialaminya itu merupakan salah satu kejadian yang luar biasa dalam hidupnya. Betapa tidak, ia tidak pernah pingsan selama ini –apalagi oleh sebuah kasus yang sebenarnya sering ia dengar dari masjid atau mushola di lingkungannya. Tapi, kenapa adzan di bulan Ramadhan yang didengarnya lewat radio justru menggetarkan jiwanya hingga membuatnya pingsan? Pertanyaan inilah yang sejenak membuat Denny tidak bisa berkata apa-apa saat itu.

Kejadian ini pun dihaturkan ke orang yang cukup mengerti agama itu, “Pak, apa artinya ini?”

“Mungkin itu sebuah hidayah dari Tuhan. Tapi, coba saja kamu terus berdoa kepada Tuhan menjelang tidur dari doa yang saya ajarkan itu,” ujar orang itu, yang hingga kini Denny sudah lupa namanya.

Sejak kejadian itu, Denny pun terus berdoa menjelang tidur dengan doa yang sama, yang selama ini selalu ia panjatkan. Pada puasa minggu kedua dan Denny juga tetap berpuasa, kejadian religus kembali menghantui dirinya. Ia bermimpi melihat orang sedang bermain rebana di televisi. Saking terkejutnya, hal itu membuatnya terjaga dari mimpi. Ia terus memikirkan mimpi itu. Sepintas hatinya pun terketuk, “Itu ‘kan musik Islam.”

Hal ini pun kembali ia utarakan pada orang itu dan jawaban yang sama pun meluncur dari bibirnya, “Kamu berdoa saja terus menjelang tidur dengan doa yang sama.” Tak terasa, puasa pun telah di ambang perpisahan. Saat itu puasa telah memasuki hari ke-20, hendak memasuki hari ke-21 dan Denny masih berpuasa. Tiba-tiba, Denny dipanggil oleh orang itu ke rumahnya.

Di depan Denny orang itu meminta, “Den, kalau bisa malam ini kamu jangan tidur. Kalau saya jelaskan kamu nanti tidak akan mengerti.Yang jelas, malam ini adalah malam istimewa, mungkin keistimewaan itu akan turun ke kamu.”

Tanpa mau bertanya lebih lanjut, Denny pun pulang dari rumah orang itu. Namun, ia tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke pabrik minuman ringan milik kedua orang tuanya. Di pabrik itu, ia naik ke tingkat dua. Di sana ia menghadap kiblat dan bertafakur dengan khusyuk. Di tengah-tengah perenungannya, tiba-tiba tangan kirinya seperti ada yang mencengkeram begitu kuatnya, hingga ia tidak bisa bergerak. Ia berusaha memberontak, tapi tak kuasa. Akhirnya, ia pasrah. Tak lama kemudian cengkeraman itu berangsur lepas dari tangannya.

Kejadian itu tidak membuat Denny ketakutan. Ia malah turun ke bawah mendekati pancuran untuk mengambil air wudhu. Sebuah tindakan yang sebenarnya tidak ia mengerti sama sekali. Dia saat itulah peristiwa aneh kembali terjadi saat ia sedang menyela jari-jari tangannya. Jari-jari tangan kanannya seperti tertahan begitu kuatnya di pangkal jari-jari tangan kirinya dan sangat sulit dilepaskan. “Sepertinya Tuhan sedang mengeluarkan dosa-dosa saya,” ujarnya. Saat peristiwa itu terjadi, jam telah menunjukkan pukul satu malam. Kata ulama, inilah malam lailatul qadar.

Setelah kejadian itu, ia kembali naik ke atas untuk menunaikan shalat dua rakaat. Entahlah, bisikan hati apa yang menggerakan Denny untuk melakukan semuanya ini. Padahal, ia belum menjadi seorang Muslim. Ia mengikuti kata hati saja untuk melakukan gerakan-gerakan yang sudah lazim dilakukan oleh umat Islam yaitu shalat sunnah. Usai itu, tidak ada lagi kejadian aneh yang menimpanya dan ia pun pulang ke rumahnya.

Besok harinya ia menemui orang itu kembali dan menceritakan apa saja yang baru dialaminya. Dengan diplomatis orang itu pun kembali berkata, “Kamu telah mengalami semuanya. Sekarang terserah kamu. Sebab, Islam tidak pernah memaksakan siapapun untuk memeluk agamanya.”

Denny berpikir sejenak. Akhirnya keputusan terbesar dalam hidupnya pun diambil. Ia memilih untuk menjadi muallaf. Subhanallah! Tidak mau kebahagiaan ini tertunda, usai puasa dan idul fitri ia pun menemui orang itu. Di depan orang itu, Denny pun mengutarakan keinginannya tersebut. Orang itu patut bersyukur kepada Allah karena hidayah akhirnya turun kepada seorang anak muda di malam penuh berkah yaitu malam lailatul qadar. Jika saja dinding dan rumput bisa bicara, mungkin mereka akan ikut bertasbih kepada Allah karena melihat salah seorang hamba-Nya akhirnya memilih jalan yang benar.

Seketika itu juga Denny dikhitan di sebuah rumah sakit, tanpa didampingi orang tuanya, yang memang belum mengetahui tentang keislamannya tersebut. Tak lama kemudian ia mengucap syadahat di rumah orang itu dengan memanggil seorang ustadz. Sejak itu, Denny pun resmi menjadi seorang muslim sejati. Sebuah hal yang dilaluinya dengan proses yang tidak mudah. Sebagian orang menilai bahwa Denny telah mendapatkan malam lailatur qadar. Wallahu a’lam bil shawab!

Diusir Keluarga
Sejak menjadi seorang Muslim, Denny pun mulai rutin menjalani shalat dan puasa. Selama dua tahun, keislaman Denny ini mampu ditutupinya dengan sangat erat. Namun, sepandai-pandainya orang menjaga rahasia akhirnya terbongkar juga. Ini pula yang dialami oleh Denny.
Kebetulan pabrik minuman milik bapaknya kena gusuran. Untuk sementara, letaknya pun pindah ke rumahnya. Nah, di situlah gelagat keislaman Denny mulai tercium keluarganya. Soalnya, sebelum pabrik itu pindah, Denny selalu melakukan rutinitas keislamannya di pabrik tersebut. Otomatis, ketika pabrik itu pindah, ia pun melakukan semuanya di pabrik atau di rumah, yang otomatis diketahui oleh keluarga.
Denny pun diintrogasi oleh ayah. Namun, di depan sang ayah dan keluarganya, ia selalu mengaku non-Muslim. Tapi, sang ayah tidak percaya begitu saja. Sang ayah pun mulai melarang Denny bepergian ke luar rumah. Takut ia melakukan akvitias ibadahnya di luar. Termasuk ketika hari Jum’at tiba. Denny dilarang keluar untuk melakukan shalat Jum’at. Namun, Denny selalu bisa berkelit. Ia berusaha melakukan apa saja agar tetap bisa shalat dan puasa, meski dalam kontrol keluarganya yang sangat ketat.
Untuk menguji kebenaran Denny, pernah suatu saat di bulan puasa ia disuruh makan bubur dan telur. Namun, hendak saja ia makan telur, tiba-tiba ayahnya kedatangan tamu. Saat sang ayah pergi, saat itulah ia membuang telur dan bubur tersebut. Ketika ayah kembali, Denny pun bilang kalau ia sudah memakannya habis. Sang ayah pun percaya.
Tapi, suatu kali ayah dan keluarganya benar-benar mengetahui kalau Denny adalah seorang Muslim. Betapa murkanya mereka pada Denny. Hingga mereka sempat berucap kalau darah Denny adalah halal. Artinya, kalaupun dibunuh hal itu tidak menjadi masalah karena Denny telah murtad. “Mereka sudah menganggap saya seperti bukan saudara lagi,” ujar Denny berkisah.
Kamar Denny pun diobrak-abrik dan sajadahnya dibakar. Lebih tragis lagi, Denny hampir sempat dibunuh oleh adiknya sendiri. Hanya saja, tidak sempat melukainya secara serius, hanya terluka sedikit. Ulah sang adik ini diketahui oleh warga. Warga yang jengkel melihat sesama muslimnya teraniaya, akhirnya mengeroyok adik Denny dalam suatu kesempatan. Hal ini pun menjadi perkara di kepolisian. Oleh adiknya, Denny dituduh sebagai biang dari adanya pengeroyokan tersebut. “Padahal, saya tidak pernah menyuruh mereka sama sekali,” ujar Denny.
Mulai dari cara yang halus hingga cara yang kasar sudah ditempuh oleh ayah dan keluarganya. Namun, tak kuasa juga merubah keislaman Denny. Akhirnya, Denny pun diusir dari rumah. Setelah diusir, hidup Denny pun tidak menentu. Di mana suka ia menetap, kadang di PITI (lembaga muallaf) dan sebagainya.
Namun begitu, di tengah jalan, sang ayah kadang masih menitip pesan kepadanya lewat orang bahwa Denny bisa diterima kembali di keluarganya kalau ia mau balik ke agama yang lama. Tapi, Denny menolak tawaran itu. Baginya, Islam sudah merupakan harga mati. Sebuah prinsip yang patut kita tiru bersama.
Dalam kondisi seperti itulah, justru Denny menemukan jodohnya. Ia akhirnya menikahi seorang gadis Muslimah keturunan Cina yang bernama Haryani (Tjong Siu Lan), arek Sukabumi. Denny menikah di pengadilan sipil karena sang ayah tidak merestuinya. Namun, demi gengsi pada teman-temannya, beberapa saat kemudian sang ayah membuatkan pesta pernikahan untuk Denny di sebuah gedung. “Tapi, setelah itu kami kembali tidak akur. Masalah akidah kami tetap berbeda,” ujar Denny.
Ujian kemudian datang lagi kepada Denny. Aset-aset perusahaan milik bapaknya yang memang atas nama dirinya akan dirubah. Diketahui, bahwa sejak ibunya meninggal segala aset perusahaan milik orang tuanya berubah menjadi atas nama Denny. Namun, setelah Denny beragama Islam, sang ayah mengancam akan menyita semua aset-asetnya dan berbalik nama lagi ke diri sang ayah. “Saya akan mendapatkan kembali aset-aset itu kalau saya balik lagi ke agama yang lama,” ujar Denny.
Tapi, Denny tidak mau menurut. Ia malah datang ke notaris bersama sang ayah untuk merubah kembali nama aset-aset perusahaan atas namanya tersebut menjadi atas nama ayahnya. Denny berprinsip lebih baik kehilangan harta (aset) daripada harus menggadai keislamannya. Sejak itu, sang ayah sendiri bergegas merubah nama Cina-nya dengan nama pribumi. Setelah tidak punya aset di perusahaan milik bapaknya, praktis Denny pun berjuang dari titik nol lagi.
Tiga tahun yang lalu, ayahnya meninggal dunia. Tiga tahun sebelum kepergiannya ke alam baka, hubungan Denny dengan sang ayah sebenarnya sudah membaik setelah 15 tahun tidak akur. Ayahnya sudah semakin bijak dan mulai terbuka hatinya untuk menerima kehadiran Denny. “Saya salut sama kamu, Den. Kamu tidak mendendam pada ayah,” ujar Denny menirukan perkataan ayahnya kala itu. Sayangnya, hati sang ayah belum terbuka untuk menerima Islam.
Kini, hidup Denny bersama keempat anaknya begitu bahagia. Anak tertuanya Fandy Sanusi yang telah menuntut ilmu di negeri sang leluhur, yaitu Cina kini telah selesai dan berhasil, kemudian anak keduanya Vina Sanusi yang menyusul ke sanapun akhirnya juga berhasil lulus, dan telah menikah dengan seorang pengusaha asal Madagaskar.
Sementara anak ketiga dan keempatnya sekolah di sebuah lembaga pendidikan milik Kerajaan Arab Saudi, yang sehari-hari menggunakan bahasa Arab. Hal yang sangat membanggakan Denny dan istrinya, kedua anaknya yang masih kecil-kecil tersebut yang bernama Firdaus Sanusi dan Vira Sanusi sangat berprestasi dan terpilih sebagai siswa teladan di sekolahnya. Kini Firdaus Sanusi kuliah di Madinah, Sebuah hal yang patut disyukurinya, mengingat betapa beratnya perjuangan dirinya saat di awal-awal mengikrarkan dirinya menjadi seorang Muslim.
Kini, untuk menghidupi keluarga, Denny mendirikan PT. UD Mulia yang sudah dirintisnya selama beberapa tahun. Perusahaan ini bergerak di bidang supplier limbah kertas. Sang istri sendiri, Haryani, membuka terapi kesehatan refleksi dan totok aura di rumahnya. “Alhamdulillah, semua ini saya rasakan berkat kesabaran saya dan istri dalam menghadapi ujian ini,” ujar Denny menutup kisahnya pada Hidayah.
Demikian kisah seorang muallaf yang harus melalui proses berliku, bahkan ancaman pengusiran dan pembunuhan dari keluarganya, untuk mempertahankan keislamannya. Sebuah hal yang patut kita tiru bersama dari orang-orang yang memang sejak kecil terdidik sebagai seorang Muslim bahwa mempertahankan akidah itu ternyata jauh lebih penting dibandingkan sekedar nilai materi yang sebenarnya tidak ada nilainya apa-apa. Sekali lagi, semoga kita bisa belajar banyak dari kisah ini! Amien.



HIDAYAH

Masya Allah.. Karena Alquran, Wanita Pembenci Islam Ini (Damianna Pearson) Bersyahadat.

Ia mencari-cari ayat dalam Alquran yang mengajarkan kebencian. Namun dia justru tidak menemukan satu pun ayat yang diharapkannya. 

Washington - Sudah menjadi tradisi bangsa Barat yang selalu ketakutan jika Islam bercokol di negara mereka. Ketakutan berbuah kebencian yang disulut oleh perang dan kekerasan yang terjadi di Timur Tengah itulah memunculkan istilah Islamofobia.

Islamofobia juga dialami seorang wanita asal Amerika Serikat bernama Damianna Pearson. Lahir dan besar di Amerika, Pearson sangat membenci Islam. Namun dari kebencian itulah Pearson justru menemukan nikmat menjadi seorang muslimah.

Kisah keislaman Pearson dimulai ketika 2 menara kembar WTC di New York, AS, roboh diserang teroris yang mengatasnamakan Islam pada 9 September 2001. (Silahkan Baca : FAKTA SEBENARNYA TRAGEDI 11 SEPTEMBER (WTC) 2001 : " KONSPIRASI JAHAT AMERIKA & ZIONIS ! ")


Sejak itu Pearson memupuk kebencian yang sangat dalam kepada apa pun yang berkaitan dengan Islam, termasuk mendukung perang terhadap Irak.

Dia bahkan mengajak anak-anaknya menyaksikan aksi tentara AS membombardir Afghanistan yang disiarkan televisi. Dia bahkan memberitahu anak-anaknya bahwa itu adalah hal paling pantas dilakukan negaranya.

Meski tidak tahu di mana itu Timur Tengah, Irak, Iran, Afghanistan, atau Palestina, Pearson terus mengobarkan kebencian kepada Islam.

Dia menjadikan dirinya alat propaganda Islamofobia dengan menyebarkan berita bohong tentang semua yang berkaitan dengan Islam.

Untuk menambah kadar kebencian terhadap Islam, Pearson mencari-cari ayat dalam Alquran yang mengajarkan kebencian. Namun dia justru tidak menemukan satu pun ayat yang diharapkannya. Alquran malah membuat hati dan hidupnya berubah total.

"Saya menyadari, bahwa setelah membaca Alquran, saya tidak menemukan ayat yang mengajarkan kebencian seperti yang saya inginkan. Alquran tidak mengajarkan umat Islam untuk membenci umat lainnya," katanya mengenang dikutip Dream dari laman OnIslam.net, Minggu 23 Agustus 2015.

Alquran telah membuat pikirannya terbuka dalam melihat orang-orang di sekitarnya, terutama muslim. Hal ini membuatnya mencintai mereka dalam cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Jadi, dia mulai mencari tahu segala peristiwa yang terjadi di berbagai tempat, termasuk kebenaran yang terjadi di Timur Tengah.

Saat mempelajari itu semua, termasuk keterlibatan negaranya, Pearson baru sadar bahwa begitu banyak berita yang dimanipulasi sehingga menebarkan kebencian kepada Islam.

"Saya sakit dan menangis beberapa hari hingga saya hampir dehidrasi. Semua nyawa yang tidak berdosa hilang karena saya telah berbohong. Itu adalah hal yang paling sulit yang pernah saya harus hadapi. Untuk melihat diri saya di cermin saja sulit."

Semua yang dilakukan membekas pada diri Pearson. Pikiran memiliki tangan yang penuh darah akan selamanya membebani hatinya.

Dan sejak itu Pearson memutuskan untuk mulai menyebarkan kebenaran. Dia berharap orang lain juga berbuat yang menebarkan kebenaran tentang Islam.

"Saya selalu berdoa agar bisa menjangkau lebih banyak orang untuk menyebarkan kebenaran daripada saat melakukan dengan kebohongan."(dm).

Masyaallah..

Minggu, 22 Februari 2015

HIDAYAH Zarif Aarif


SUATU kali, Zarif Aarif pergi ke Maroko. Waktu itu, ia masihlah seorang pria Australia Kristen. Di Maroko, Aarif terpesona melihat seni budaya Islam dan ikut merasakan atmosfer budaya islami dalam kehidupan sehari-hari penduduk negeri itu. Di Alhambra ia menyaksikan pemandangan berupa arsitektur bangsa Moor dalam wujud perkebunan yang di bagian dibawahnya mengalir sungai-sungai.

Zarif ingat, ketika kecil dulu, ia senang berayun-ayun di tali lonceng gereka sambil berteriak-teriak menirukan Tarzan ketimbang latihan paduan suara gereja. Ia selalu punya alasan untuk menghindari Tuhan dan tidak ikut misa di gereja. Tapi di suatu pagi, 16 tahun kemudian, entah mengapa ia memutuskan untuk pergi ke gereja.

Sejak saat itu, Zarif merasa benar-benar menjadi seorang Kristiani dan beberapa tahun kemudian ia mendaftarkan diri ke sebuah perguruan tinggi ternama di Tabor untuk meraih gelar sarjana di bidang Alkitab.

Namun, di tempat inilah justru ia semakin gelisah soal pilihan keyakinannya. Di situ, ia mulai medengar desas-desus yang selama ini beredar di kalangan orang-orang Kristen, yang menurutnya kadang melecehkan dan ia tidak yakin informasi yang didengarnya benar.
Tapi informasi itu juga ia dengar dari para pemasok buku ke toko yang ia kelola. “Sejarah Kristen menjadi pembuka mata saya bahwa apa yang terjadi selama dan sesudah perang Salib benar-benar menggangu para penganut agama ini,” tuturnya seperti dikutip dari OnIslam.

Akhirnya, Zarif memutuskan meninggalkan ibadah formalnya karena ia tidak sepakat dengan doktrin yang menempatkan Tuhan dalam kerangka yang dibatasi oleh definisi-definisi. Ia juga menilai organisasi Kristen lebih condong berpolitik dan menonjolkan diri, dibandingkan sebagai wakil sebuah agama. Ia akhirnya memutuskan keluar dari agama Kristen, namun tampaknya waktu itu ia juga tidak mempunyai keyakinan terhadap agama lain.

Sampai akhirnya ketika pada suatu hari, Zarif pergi ke toko buku Islam di dekat hotelnya menginap dan membeli beberapa buku

Literatur tentang Islam.

“Saya bertanya pada penunjuk jalan saya selama di Saudi. Ia namanya Mahmoud atau Muhammad, saya lupa. Saya bertanya kepadanya dimana saya bisa mendapatkan Al-Quran,” ujar Zarif. Oleh pemandunya itu, Zarif diberikan terjemehan Al-Quran yang bagus dan malam itu juga ia membaca dan berdoa agar diberikan bimbingan padanya saat membaca terjemehan Al-Quran.

Zarif ingat, ayat-ayat pertama yang ia baca adalah tentang para ahli kitab-umat Kristiani dan Yahudi. Begitu jelasnya ayat itu bagi Zarif karena demikian membuka matanya akan sebuah agama yang mengajarkan toleransi, bahkan terhadap keyakinan yang bertentangan dengannya.

Tujuh tahun kemudian Zarif bertemu dengan seorang Muslimah asal Indonesia. Mereka intens berkirim surat dan berdiskusi lewat internet. “Saya secara pribadi kemudian mengunjungi Indonesia; kami bertemu lagi dan berbicara tentang masa depan. Saya melamarnya dan ia menerima,” tuturZarif.

Ia lalu mengurus dokumen-dokumen resmi untuk menikah di Australia. Saat itu Zarif belum masuk Islam, tapi ia sangat menghormati keyakinan isterinya. Hingga pada titik tertentu ia merasa perbedaan agama tidak membuat nyaman pernikahannya. “Saya berpikir dan merenung. Mengajukan banyak pertanyaan dan berdoa selama berbulan-bulan sampai saya merasakan kedamaian dalam hati saya tentang jalan yang akan saya ambil,” tutur Zarif. “Sungguh, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak memeluk Islam. Saya akui saya bukan tipe orang yang rajin ibadah, tapi saya pikir kemalasan itu bisa dihilangkan dengan kemauan dan tekad.”

Zarif pun berkomitmen dan mulai belajar shalat. Ia pergi ke mesjid di Perth, bicara dengan imam di sana dan mengucapkan syahadat di masjid itu. “Meski saya sudah beberapa tahun masuk Islam, saya masih dalam tahap belajar dan saya menikmati proses belajar itu. Sampai saat ini, saya masih tak pernah berhenti berdoa. Dalam Islam, saya merasa di rumah sendiri.” []

Sabtu, 21 Februari 2015

600 pekerja asal Cina berpaling menjadi Muslim setelah mendapatkan pengalaman spiritual di Arab Saudi.


TELAH kita ketahui bahwa ka’bah merupakan kiblat umat Muslim. Dan berkujung ke baitullah itu merupakan kewajiban umat Muslim, yang terdapat pada rukun Islam. Ternyata bukan hanya itu saja, melalui ka’bah ternyata dapat menggetarkan hati seseorang yang melihatnya. Hingga orang-orang non Muslim pun kini tertarik hingga ingin masuk Islam.

Hidayah memang bisa datang dari cara yang tak pernah diduga. Mungkin itu pula yang dialami ratusan pekerja Cina di Arab Saudi yang kemudian memilih Islam sebagai agamanya yang baru.

Setelah melihat ka’bah dari televisi, tiba-tiba hati mereka bergetar. Pintu hidayah seakan terbuka. Dan Allah SWT pun melapangkan jalan mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Lebih dari 600 pekerja asal Cina berpaling menjadi Muslim setelah mendapatkan pengalaman spiritual di Arab Saudi.

Mereka adalah bagian dari 4.600 warga Cina yang sedang mengerjakan proyek rel kereta api yang menghubungkan Makkah dan Madinah. Rel kereta itu nantinya akan melalui Jeddah dan Khum. Peristiwa yang sempat menghebohkan itu terjadi tahun lalu.

Awalnya, kedatangan ribuan pekerja Cina itu sempat dipertanyakan warga Arab Saudi. Pasalnya dari 4.600 pekerja itu hanya 370 orang yang Muslim. Warga meminta agar pemerintah mempekerjakan buruh Cina yang beragama Islam. Namun Allah mempunyai rencana lain dengan kedatangan para pekerja itu.

Kedatangan ke Arab Saudi ternyata membuka peluang bagi mereka untuk melihat Islam langsung dari tanah tempat agama ini diturunkan. Seperti yang dikatakan seorang pekerja yang telah menjadi Mualaf.

Pekerja yang telah mengganti namanya menjadi Hamza (42) ini mengaku tertarik pada Islam setelah melihat ka’bah untuk kali pertama di televisi Saudi. “Ini menggetarkan saya. Saya menyaksikan siaran langsung shalat dari Masjidil Haram dan umat Islam yang sedang berjalan memutari ka’bah (tawaf),” katanya.

”Saya bertanya ke teman yang Muslim tentang semua hal ini. Dia kemudian mengantarkan saya ke Kantor Bimbingan Asing yang ada di perusahaan, di mana saya memiliki kesempatan untuk belajar tentang berbagai aspek mengenai Islam,” tuturnya. Kini Hamza merasa lebih bahagia dan lebih santai setelah menjadi seorang Muslim.

Pekerja lainnya, Ibrahim (51), mengalami peristiwa yang hampir serupa pada September tahun lalu. Dia yang bekerja di bagian pemeliharaan perusahaan negara, Kereta Api Cina, menjadi seorang Muslim usai melihat ka’bah. “Meskipun kami berada di Cina, kami tidak memiliki kesempatan untuk belajar tentang Islam. Ketika saya mencapai Mekkah, saya sangat terkesan oleh perilaku banyak warganya. Perlakuan yang sama bagi orang Muslim dan non-Muslim memiliki dampak besar pada saya,” tambahnya.

Sementara, Abdullah Al-Baligh (51), terinspirasi untuk memeluk Islam setelah melihat perubahan positif dari rekan-rekannya yang lebih dulu menjadi mualaf. “Enam bulan setelah saya tiba di Makkah, saya melihat bahwa rekan saya, yang sudah menjadi Muslim, telah benar-benar berubah. Tingkah lakunya patut dicontoh. Saya menyadari bahwa Islam adalah kekuatan penuntun di balik perubahan tersebut,” ujarnya.

“Ketika saya bertanya padanya, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tak tahu tentang agama ini selama di Cina. Sekarang, ia memiliki pemahaman yang tepat tentang Islam dan ingin menjadi lebih teladan.”

Begitu pula dengan Younus. Pekerja asal Cina ini baru mempelajari Islam ketika berada di Makkah. “Islam di Cina begitu kurang. Aku baru mengetahui Islam setelah datang ke Saudi,”

Profesor William, menemukan tumbuhan yang bertasbih


Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat tentang suara halus
yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih.
Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi menjadi gelombang elektrik optik yang dapat
ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis.
Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.
Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang
tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan.
Peniliti muslim ini lalu mengatakan jika temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim peneliti Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yang dikatakannya.
Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah berupa mushaf Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William, salah satu anggota tim peneliti Inggris.
Selang beberapa hari setelah peristwa itu, Profesor William berceramah di Universitas Carnegie Mellon. Ia mengatakan:
“Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apamakna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku yakni masuk Islam,” demikian ungkapan William.

PARA JAMAAH SATU GEREJA MASUK ISLAM


Satu Gereja Masuk Islam, SUBHANALLAH.

Ini Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika Rabu, 22 Februari 2006 silam.
Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku
kuliahnya di Amerika . Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa

pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.Selain belajar,
ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia
berkenalan dengan salah seorang Nasrani.Hubungan mereka semakin
akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk
Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan
di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di
kampung tersebut.Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam
gereja. Semula ia berkeberatan,namun karena ia terus mendesak
akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke
dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening,
sebagaimana kebiasaan mereka.

Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan
penghor-matan lantas kembali duduk. Di saat itu si pendeta agak
terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah
kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini."
Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut
mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak
bergeming dari tempatnya.
Hingga akhirnya pendeta itu berkata,
"Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin
keselamatannya. "Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu
ia bertanya kepada sang pendeta,
"Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim."
Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu."Kemudian
ia beranjak hendak keluar,namun sang pendeta ingin memanfaatkan
keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan,
tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan
markasnya.
Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata,
"Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus
menjawabnya dengan tepat."
Si pemuda tersenyum dan berkata,
"Silahkan!

Sang pendeta pun mulai bertanya,
# 1.. Sebutkan satu yang tiada duanya,

# 2.. dua yang tiada tiganya,

# 3.. tiga yang tiada empatnya,

# 4.. empat yang tiada limanya,

# 5.. lima yang tiada enamnya,

# 6.. enam yang tiada tujuhnya,

# 7.. tujuh yang tiada delapannya,

# 8.. delapan yang tiada sembilannya,

# 9.. sembilan yang tiada sepuluhnya,

# 10.. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,

# 11.. sebelas yang tiada dua belasnya,

# 12.. dua belas yang tiada tiga belasnya,

# 13.. tiga belas yang tiada empat belasnya.

# 14.. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!

# 15.. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?

# 16.. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?

# 17.. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyu-
kainya?

# 18.. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan
ibu!

# 19.. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan
apidan siapakah yang terpelihara dari api?

# 20.. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan
batu dan siapakah yang terpelihara daribatu?

# 21.. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!

# 22.. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting
mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan
dan dua di bawah sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu ter-senyum dengan
senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah
ia berkata,
# 1.. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.

#2.. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT
berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda
(kebesaran kami)." (Al-Isra':12).

# 3.. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi
Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil
dan ketika me-negakkan kembali dinding

yang hampir roboh.

# 4.. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-
Qur'an.

# 5.. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.

# 6.. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT
menciptakan makhluk.

# 7..Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah
SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah
sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk:3).

# 8.. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-
Rahman. Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada dipenjuru-
penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat
menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

# 9.. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan
kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim
paceklik, katak, darah, kutu dan belalang

# 10.. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah ke-baikan. Allah SW
berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh
kali lipat." (Al-An'am: 160).

# 11.. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara
Yusuf.

# 12.. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa
yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon
air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan
tongkatmu.' Lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air." (Al-
Baqarah: 60).

# 13.. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf
ditambah dengan ayah dan ibunya.

# 14.. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah
waktu Shubuh. Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya
mulai menying-sing. " (At-Takwir:1)

# 15.. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus
AS.

# 16.. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-
saudara Yusuf,yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya,"Wahai ayah
kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan
Yusuf di dekat barang-barang kami,lalu dia dimakan serigala." Setelah
kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepadamereka," tak ada cercaaan
ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan
memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang."

# 17.. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah
suara keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara
adalah suara keledai." (Luqman: 19).

# 18.. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi
Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.

# 19.. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab
dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi
Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan
Ibrahim." (Al-Anbiya': 69).

# 20.. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang
diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari
batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

# 21.. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah
tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu
daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 2)

# 22.. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai
30 daun, setiap daun
mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran
matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun
adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga
dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda
muslim tersebut.Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia
mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu
pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.
Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"
mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya
diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun

 be rubah.
Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.
Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab
pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Salah satu Jamaah dari mereka berkata,
"Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab
sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu
menjawabnya! "
Pendeta tersebut berkata,
"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku
takut kalian marah. " Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan
anda."
Sang pendeta pun berkata, "
Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa'asyhaduanna Muhammadar
Rasulullah."

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu
memelukagama Islam. ALLAHU AKBAR! Sungguh Allah telah menganugrahkan
kebaikan dan menjaga mereka dengan
Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.

Semoga Kisah ini dapat menambah kuat Iman kita sebagai seorang Muslim, dan jika Kisah ini di baca oleh orang non muslim,
semoga dia sadar dan memeluk Agama yang paling Benar, Agama ALLAH SWT.

Jumat, 20 Februari 2015

PENDETA YAHUDI MASUK ISLAM





Baru-baru ini Turki tengah mengalami sebuah sejarah besadan  fenomenal. Seorang pendeta Yahudi Turki terkemuka, Aaron Cohen, bersama keluarganya memutuskan diri mereka untuk memeluk agama Islam.

Harian Turki berbahasa Arab, Akhbaralaalam (5/11) mengabarkan, Kohin (45) dan keluarganya mengikrarkan keislaman mereka di hadapan mufti Istanbul, Syaikh Bey Oglu, sejak sebulan silam. Namun, mereka baru mengumumkannya ke khalayak luas pada awal bulan ini.
“Saya sangat menghormati ketiga agama samawi. Agama Islam adalah agama yang memeluk semuanya. Asas inti ketiga agama hadir dalam Al-Quran,” ujar Kohen, sebagaimana dikutip Harian Hürriyet.
Kohen juga mengatakan, bahwa ajaran dan syari’at agama Islam benar-benar memuat, melengkapi, dan menyempurnakan syari’at agama samawi sebelumnya, yaitu Yahudi dan Kristen. “Dalam kitab suci Al-Quran, sesungguhnya terkumpul ajaran-ajaran mulia agama-agama sebelumnya,” tambah Kohin.
Terkait alasan mengapa Aaron Kohen memilih Islam, pendeta muda yang mengaku menghaiskan hampir 20 tahun di kehidupan sinagog Istanbul itu mengatakan, dirinya telah mengkaji secara mendalam antara akidah dan syari’ah Yahudi, Kristen, dan Islam.
“Dan saya memutuskan untuk memeluk Islam karena saya dan keluarga saya ingin mendapatkan kebahagiaan hidup sejati,” tegasnya.
Kohen memeluk Islam bersama istrinya,  Filori dan anaknya. Sikapnya berganti agama sempat mengundang kecaman.  Bahkan untuk menebus keislamannya, Kohen harus menghadapi beberapa tantangan dari komunitas Yahudi nya terdulu.


“Saya banyak menerima kritik dan kecaman dari saudra-saudara Yahudi saya,” ujar Kohen. “Saya tidak peduli akan reaksinya. “Kedamaian dalam hati saya jauh lebih penting bagi saya,” tambahnya.
Turki tercatat sebagai negara Muslim yang memiliki sejarah gemilang terkait hidup berdampingan dengan umat Yahudi. Ketika orang-orang Yahudi mengalami pengusiran di Spanyol (abad ke-16 M), dan negara-negara Eropa menolak untuk menerima mereka, justru kekaiasran Islam Turki-Utsmani- lah yang dengan sukarela membukakan pintu untuk menolong mereka.
Hingga saat ini, populasi umat Yahudi di Turki terbilang signifikan. Di Istanbul saja, terdapat sekitar 200.000 pemeluk agama Yahudi. Yahudi Turki, sebagaimana yahudi-Yahudi yang hidup di negara-negara Muslim lainnya, disebut juga sebagai “Yahudi Timur”. [akhbar/hurriyet/ qantara/ atjeng/cha/www. hidayatullah. com]

HBMI ( Himpunan Bina Muallaf Indonesia)

PITI ( Persatuan Islam Tionghoa Indonesia ) yang waktu lalu hanya berkisar pada  kalangan Tionghoa KINI telah mengembangkan Syiarnya untuk semua SUKU dan BANGSA di seluruh NUSANTARA dan  DUNIA pada umumnya yang kami beri nama HIMPUNAN BINA MUALLAF INDONESIA dengan maksud dan tujuan tanpa membedakan RAS atau BANGSA.

Silahkan kunjungi kami di : www.binamuallafindonesia.com
email : hbmi.pusat@yahoo.com

Senin, 16 Juli 2012

Satu keluarga di Cina Memeluk Islam Alhamdulillah

 

Alhamdulillah! Satu keluarga di Cina Memeluk Islam 
 Seorang perempuan Cina dan empat anaknya memeluk Islam sebagai sebuah jalan hidupnya yang baru. Perayaan memeluk Islam dilakukan oleh Departemen Dakwah Tutong di Kampung Keriam, di Distrik Tutong.


Tamu kehormatan dalam acara tersebut adalah Haji Harun bin Haji Junid yang merupakan Wakil Sekretaris Tetap di Kementerian Agama Cina.  Acara dimulai dengan pembacaan surat Al Fatihah yang kemudian diikuti dengan upacara memeluk Islam.

Yong Siow Mee, membacakan doa dengan dibimbing staf dari Kementerian Agama Cina dan kemudian memilih nama Muslim barunya sebagai Nur Ameerah Raziqin binti Abdullah Yong. Sementara empat anak-anaknya yang juga berganti nama Nurhafizah binti Bakar, Nurshahnizam bin Bakar, Nurhalizam bin Bakar dan Nurazlizam bin Bakar, tak lupa berdoa dan memilih nama mereka sendiri Muslim.

Acara ini juga memperlihatkan penampilan Dzikir Marhaban yang dibawakan anggota Asosiasi PESATU yang diikuti dengan percikan bunga yang wangi kepada Yong Siow Mee dan keempat anaknya oleh tamu kehormatan. Doa selamat dibacakan oleh Imam Haji Abd Aziz bin Badul. Pejabat dan staf Pusat Dakwah Islam dan penduduk desa setempat juga ikut hadir.

 

sumber : REPUBLIKA.CO.ID, TUTONG 

Jumat, 17 Februari 2012

Shalat di Stasiun Menggetarkan Hatiku!

(Kabar Dari New York):

M. Syamsi Ali : Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
Diiringi gema "Allahu Akbar!", siang itu pria cokelat asal Trinidad itu resmi menjadi Muslim setelah mengucapkan syahadat menjelang shalat Ashar.

Pemuda berkulit cokelat asal Trinidad itu terpana melihat pemandangan di depannya. Mata Dion, yang berusia 26 tahun itu, tak henti-henti mengarah ke sekelompok Muslim yang sedang shalat dengan khusyu'nya di tengah riuh-rendah stasiun kereta di sebuah kota di Belgia. Dion seperti tersambar petir. "Saya nggak tahu, tiba-tiba karena melihat mereka shalat di stasiun hati saya bergetar," katanya.

Seusai mereka shalat, Dion memberanikan diri bertanya, siapa mereka dan apa gerangan yang mereka baru lakukan? Setelah mendapatkan jawaban dari mereka, pemuda yang bekerja sebagai akuntan di Stamford, Connecticut, itu tidak pernah habis berpikir. Ada pikiran yang berkecamuk keras, antara percaya dengan perasaannya sendiri dan apa yang dia kenal selama ini tentang Islam.

Tiga minggu sesudah kejadian itu, Dion bertemu saya di the Islamic Forum for non Muslim New York yang saya asuh. Rambutnya panjang. Gaya berpakaiannya membuatku hampir tidak percaya kalau hatinya begitu lembut menerima hidayah Ilahi. Biasanya ketika menerima pendatang baru di kelas ini, saya mulai menjelaskan dasar-dasar Islam sesuai kebutuhan dan pengetahuan masing-masing peserta. Tapi hari itu, tanpa kusia-siakan kesempatan, saya jelaskan makna shalat dalam kehidupan manusia, khususnya dalam konteks manusia modern yang telah mengalami kekosongan spiritualitas.

Hampir sejam saya jelaskan hal itu kepada Dion dan pendatang baru lainnya. Hampir tidak ada pertanyaan serius, kecuali beberapa yang mempertanyakan tentang jumlah shalat yang menurut mereka terlalu banyak. "Apa lima kali sehari tidak terlalu berat?" tanya seseorang. "Sama sekali tidak. Bagi seorang Muslim, shalat 5 waktu bahkan lebih dari itu adalah rahmat Allah," jawabku. Biasanya saya membandingkan dengan makan, minum, istirahat untuk kebutuhan fisik.

Setelah kelas bubar, Dion ingin berbicara berdua. Biasanya saya tergesa-gesa karena harus mengisi pengajian di salah satu masjid lainnya. "Saya rasa Islam lah yang benar-benar saya butuhkan. Apa yang harus saya lakukan untuk menjadi Muslim?" tanyanya tanpa tedeng aling-aling.

Saya diam sejenak, lalu saya bilang, "Saya bukannya mau menunda jika kamu benar-benar yakin bahwa ini jalan yang benar untuk kamu. Tapi coba pastikan, apakah keputusan ini datang dari dalam dirimu sendiri."

Dengan bersemangat Dion kemudian menjawab, "Sejak dua minggu lalu, saya mencari-cari jalan untuk mengikuti agama ini. Beruntung saya kesini hari ini. Kasih tahu saya harus ngapain?" katanya lagi.

Alhamdulillah, siang itu juga Dion resmi menjadi Muslim setelah mengucapkan syahadat menjelang shalat Ashar. Diiringi gema "Allahu Akbar!" dia menerima ucapan selamat dari ratusan jama'ah yang shalat Ashar di Islamic Center of New York.

Sabtu lalu, 8 April, Dion termasuk salah seorang peserta yang mengikuti ceramah saya di Yale University dengan tema "Islam, Freedom and Democracy in Contemporary Indonesia". Pada kesempatan itu saya perkenalkan dia kepada masyarakat Muslim yang ada di Connecticut, khususnya Stamford. Sayang, belum ada tempat di daerahnya di mana dia bisa mendalami Islam lebih jauh. Hingga kini, dia masih bolak balik Stamford-New York yang memakan waktu sekitar 1 jam, untuk belajar Islam.

Semoga Dion dikuatkan dan selalu dijaga dalam lindunganNya!